Korban Ledakan Sumur Minyak Ilegal di Batanghari Meninggal Dunia

Okezone ยท Minggu, 17 Februari 2019 - 11:53 WIB
Korban Ledakan Sumur Minyak Ilegal di Batanghari Meninggal Dunia
Herdang, Pekerja sumur minyak yang jadi korban luka bakar di Desa Pompa Air, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, Sabtu (16/2/2019), akhirnya meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit. (Foto: Istimewa)

JAMBI, iNews.id – Korban luka bakar akibat meledaknya sumur minyak ilegal di di Desa Pompa Air, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, Sabtu (16/2/2019) akhirnya meninggal dunia. Korban atas nama Herdam (45) warga Sekayu, Kecamatan Lais, Kabupaten Muba, Sumatera Selatan itu meninggal dunia, setelah mendapat perawatan intensif atas luka bakar yang dideritanya.

Kabar tersebut dibenarkan Kabag Ops Polres Batanghari, Kompol Ahmad Bastari Yusuf. "Korban mengembuskan napas terakhir tadi malam akibat luka bakar di sekujur tubuhnya. Dari hasil penangan secara medis, diagnosa dokter menyebutkan luka bakar korban mencapai 97 persen," ujarnya, Minggu (17/2/2019).

Informasi yang dihimpun, korban yang bertugas sebagai tukang polot atau pengumpul minyak sedang melakukan penyalingan minyak dari bak tampung bawah ke bak penampungan atas. Itu dilakukan karena kondisi mesin panas mengeluarkan percikan api.

Mendadak api tersebut langsung menyambar selang dan mengenai sepeda motor dan mengakibatkan ledakan keras. Menurut saksi mata, saat hendak melakukan pemadaman, api yang sudah membesar itu akhirnya menyambar tubuh korban.

Melihat kejadian itu, warga setempat langsung berhamburan ke lokasi kejadian. Selanjutnya warga mengevakuasi korban menggunakan kendaraan PBMSJ menuju Rumah Sakit Umum Abdoel Madjid Batoe Muara Bulian.

Akibat kejadian itu, sumur minyak ilegal yang terdapat di lahan milik Anis (50), warga Jambi ludes terbakar. Tidak itu saja, pemilik dan pengelola sumur ilegal bernama Dendi (27), warga Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin, Palembang, Sumatera Selatan, mengalami kerugian materil sekitar Rp40 juta.


Editor : Himas Puspito Putra