Hikmah

Kisah Pernikahan Nabi Adam dan Siti Hawa dengan Mahar Shalawat

Kastolani ยท Rabu, 15 Januari 2020 - 19:30 WIB
Kisah Pernikahan Nabi Adam dan Siti Hawa dengan Mahar Shalawat
Ilustrasi pernikahan. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Pernikahan dalam Islam selain merupakan sunah Nabi Muhammad SAW, juga menjadi jalan menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Islam sangat memperhatikan fitrah suci manusia.

Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengumbar syahwatnya, tidak pula memerintahkan membuang jauh syahwat yang memang sudah menjadi fitrah manusia. Islam sangat menganjurkan bagi mereka yang telah mampu agar segera menikah.

Rasulullah Saw bersabda:

Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR. Ibnu Majah).

Pernikahan sudah dicontohkan Nabi Adam alaihi salam dengan Siti Hawa.

Dalam kitab Bada’i al-Zuhur Fi Waqa’i al-Duhur karya Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafi seperti dikutip Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS-KTB), dikisahkan ketika Nabi Adam turun dari mimbar terus beliau duduk di antara para malaikat, kemudian Allah SWT menidurkan Adam karena tidur adalah istirahatnya badan.

Saat tidur, Nabi Adam bermimpi melihat Siti Hawa sebelum diciptakan. Sete­lah melihatnya, akhi­rnya Nabi Adam jatuh hati padanya. Kemudian Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk bagian kiri Adam sama bentuknya dan mempercantik ciptaan-Nya melebihi 1.000 bidadari.

Siti Hawa dan keturunannyalah­ secantik-cantiknya perempuan sampai di hari kiamat nanti. Siti Hawa mempunyai 700 ikatan pada rambut dan tingginya sama dengan Adam. Allah memberi gelang dan perhiasan dari surga yg mengkilap melebihi sinar matahari.

Setelah itu, Adam terbangun dan tiba-tiba Siti Hawa sudah ada di sampingnya. Nabi Adam heran, kagum dan jatuh cinta padanya. Lalu syahwat pun merasukinya terus dikatakan pada nabi Adam "jangan engkau lakukan sehingga engkau mendatangkan maharnya". 

Nabi Adamdam bertanya "apa mahar/mas kawinnya? Allah menjawab, aku mencegah kalian dari pohon gandum, maka janganlah kalian makan dan itulah maharnya.

Allah kemudia  berfirman,berik­anlah dia mahar adam bertanya, apa maharnya? Allah menjawab, bacaka­n shalawat pada nabiku dan kekasihku Muhammad Saw.

Lalu Adam bertanya, siapak­ah Muhammad itu ? Allah menjawab, dia adalah anak cucumu nanti dan dia adalah penutup para nabi. Andai bukan karena dia (Muhammad), Aku (Alah) tidak akan menciptakan makhluk.

Kemudian Allah menikahkan Adam dengan Hawa dan itu bertepatan hari Jumat setelah tergelincirnya matahari. Karena itulah disunnahkan menikah pada hari Jumat.

Setelah Adam menikah, Allah memberi wahyu kepada malaikat ridwan sang penjaga surga untuk membuatkan perkemahan dan merias para wildan atau pelayan surga dan para bidadari.

Nabi Adam dan Hawa lalu berkeliling menaiki unta dan akhirnya sampai di pintu surga dan mereka terdiam sebentar.
Kemudian Allah memberi wahyu pada Adam, ini surgaku dan istana kemulyaanku masuklah kalian dan makanlah apa yang ada sesuka hati kalian dan janganlah mendekat pada pohon ini niscaya kalian tergolong orang-orang dzalim.

Malaikat yang jadi saksi atas pernikahan mereka kemudian mengantar Adam dan Hawa masuk ke surga. 


Editor : Kastolani Marzuki