Kasus Perusakan Rumah Diosis dan Penyanderaan Polisi, 7 Warga Flores Timur Ditangkap

Joni Nura ยท Kamis, 21 November 2019 - 11:58 WIB
Kasus Perusakan Rumah Diosis dan Penyanderaan Polisi, 7 Warga Flores Timur Ditangkap
Polisi saat pengamanan di Kampung Suku Tukan, Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: iNews/Joni Nura)

MAUMERE, iNews.idKonflik lahan antara warga Suku Tukan, Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan PT Rerolara Hokeng berbuntut panjang. Tim gabungan Brimob dan Polres Flores Timur menangkap tujuh terduga pelaku yang diduga terlibat perusakan rumah diosis atau rohaniawan Katolik dalam kapel atau gereja kecil milik PT Rerolara Hokeng, Rabu (20/11/2019).

Pantauan iNews, penangkapan ketujuh terduga pelaku disaksikan ratusan warga setempat. Para orangtua, khususnya ibu dari para pemuda yang diamankan hanya bisa menangis melihat anak-anak mereka dibawa polisi.

Sebelumnya, massa dari warga Suku Tukan mendatangi rumah diosis di Desa Hokeng Jaya pada Selasa (19/11/2019). Mereka membawa parang, tombak dan anak panah serta melakukan perusakan. Warga juga membakar kebun pisang dan gudang penyimpanan kopi PT Rerolara Hokeng.

Aksi ini dipicu pematokan pilar lokasi lahan HGU PT Rerolara Hokeng di Kecamatan Wulanggitang. Warga Suku Tukan meminta agar pematokan dan segala aktivitas di tanah HGU dihentikan. Selain itu, mereka menginginkan Direktur PT Rerolara Hokeng Romo Nikolaus Lawe Saban keluar dari rumah diosis dan meninggalkan PT Rerolara HGU Hokeng.

Dalam tuntutannya, warga Suku Tukan juga meminta polisi membebaskan Masrsel yang ditahan di Polsek Wulanggitang atas kasus penodongan dan penyerangan anggota Intelkam Polres Flotim saat lidik di rumah diosis PT Rerolara Hokeng.

Mereka menyandera Bripka Damianus Hera dan istri yang ketika itu dalam perjalanan ke SDI Wolorona. Aksi penyanderaan ini sebagai jaminan pembebasan Masrsel.

Polisi pun akhirnya melakukan pertukaran antara anggota Polsek Wulanggitang dan istri yang disandera dengan Masrsel. Setelah pertukaran terjadi, kedua sandera yakni Bripka Damianus Hera dan istri menjalani perawatan intensif di Puskesmas Wulanggitang akibat trauma atas kejadian tersebut.

Kapolres Flores Timur Deny Abrahams mengatakan, penangkapan ketujuh terduga pelaku ini berdasarkan barang bukti berupa video dan foto yang diambil petugas saat kejadian. Mereka diserahkan kepala desa setempat dan dibawa ke kantor desa untuk selanjutnya diamankan petugas.

“Jadi pascakejadian bentrok warga Suku Tukan atas HGU PT, kami sudah melakukan langkah penindakan dengan mengamankan tujuh terduga pelaku,” ujarnya, Rabu (20/11/2019).

Identitas mereka masing-masing berinisial PPK (19), HL (20), lST (19), ABT (18), YDSY (18), SN (34) dan HHS (21). Seluruhnya merupakan warga asal Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur.

“Saat ini saya bisa pastikan situasi di Flores Timur sudah kondusif,” kata Kapolres.

Lokasi tanah HGU PT Rerolara Hokeng dijaga ketat aparat dari tim gabungan Polres Flotim, Brimob Sub Den B Sikka dan Kodim 1624 Flotim. Petugas terus mengimbauan masyarakat untuk menciptakan situasi kamtibmas aman dan damai.


Editor : Donald Karouw