Kaget Tagihan Listrik Bulan Juni Membengkak, Warga Tanjungpinang Protes ke PLN

Antara ยท Senin, 08 Juni 2020 - 15:39 WIB
Kaget Tagihan Listrik Bulan Juni Membengkak, Warga Tanjungpinang Protes ke PLN
Petugas PLN memperbaiki jaringan listrik Batu 7 Tanjungpinang, Kepri. (Foto: Antara)

TANJUNGPINANG, iNews.id - Masyarakat Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kaget mengetahui tagihan listrik yang membengkak pada Juni 2020. Mereka langsung memprotes besar tagihan tersebut ke PLN.

Anggota DPRD Kota Tanjungpinang Muhamad Arif mengaku menerima banyak keluhan dari pelanggan PLN Kepri, kecuali Batam. Keluhan itu disebabkan tagihan listrik naik tinggi, bahkan ada yang melebihi 100 persen. Menyikapi persoalan itu, dirinya telah meminta klarifikasi kepada pihak PLN.

"Penyebabnya ternyata pihak PLN melakukan estimasi penggunaan listrik pada Maret-Mei 2020 sehingga Juni 2020 tagihan listrik membengkak," kata Arif di Tanjungpinang, Senin (8/6/2020).

Arif mengatakan, permasalahan ini mencuat hingga muncul polemik lantaran kebijakan tersebut tidak disosialisasikan. PLN seharusnya menyosialisasikan secara masif kebijakan itu sebelum dilaksanakan sehingga dapat dipahami masyarakat.

PLN memang tidak mencatat meteran listrik dari rumah pelanggan karena menerapkan kebijakan jaga jarak sesuai protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

"Walaupun ini kebijakan nasional, tetap harus disosialisasikan karena berimbas kepada pelanggan. Ini tentu membebani masyarakat yang sejak pandemi COVID-19 kehilangan pekerjaan, pendapatan berkurang dan lainnya," ujarnya.

Arif mendesak PLN untuk memberi keringanan kepada pelanggan dengan tidak melakukan pemutusan sambungan listrik jika pelanggan terlambat membayar tagihan listrik. Kebijakan itu diharapkan diberlakukan PLN lantaran para pelajar sedang menghadapi ujian kenaikan kelas.

"Keringanan lainnya yakni pembayaran tagihan listrik melalui sistem angsuran untuk meringankan beban pelanggan," ucapnya.

Sementara Manajer Operasional PT PLN Kepri, kecuali Batam, Harsono mengakui tagihan listrik pada Maret-Mei 2020 berdasarkan estimasi penggunaan sebelumnya. Kekurangan pembayaran tagihan berdasarkan meteran listrik yang dibebankan pada tagihan Juni 2020. Kebijakan ini berlaku secara nasional untuk mencegah penularan Covid-19 dan sudah disosialisasikan kepada masyarakat.

"Khusus untuk pelanggan yang membantu PLN memotret meteran listrik pada Maret-Mei 2020, maka tagihan ditetapkan berdasarkan penggunaan listrik, bukan estimasi," tuturnya.

Jika terjadi kesalahan yang dilakukan pihak PLN, maka pelanggan dapat melaporkannya kepada pihak PLN. Pembayaran tagihan pada bulan berikutnya akan berkurang.

Tagihan pada bulan ini juga dapat diansur pelanggan. Contohnya, biasanya pelanggaran membayar tagihan Rp300.000, kemudian pada Juni 2020 membayar tagihan Rp500.000, maka untuk Rp200.000, selisihnya dapat dicicil selama tiga bulan.

"Pembayaran secara cicilan ini tentunya berdasarkan permohonan pelanggan," katanya.


Editor : Maria Christina