Kabur ke Poso, Kades di Sumbawa Diduga Korupsi Rp897 Juta

M. Awaluddin ยท Selasa, 15 Januari 2019 - 13:59 WIB
Kabur ke Poso, Kades di Sumbawa Diduga Korupsi Rp897 Juta
Kepala Desa Suka Mulya, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), AZ, diamankan polisi. (Foto: iNews/M Awaluddin).

MATARAM, iNews.id - Kepala Desa Suka Mulya, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), AZ, diamankan polisi. Dia diduga menyalahgunakan dana desa tahun anggaran 2015-2016 sebesar Rp897 juta.

Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB, AKBP Syarif Hidayat mengatakan, ada dugaan dana desa dikorupsi oleh tersangka AZ. Uang ratusan juta dipakai untuk keperluan pribadi dan membayar utang-utangnya.

"Sebesar Rp897 juta lebih, dana desa tahun anggaran 2015-2016," kata Syarif di Mapolda NTB, Kota Mataram, Selasa (15/1/2019).

Modusnya, kata dia, tersangka AZ ini membuat laporan pertanggungjawaban fiktif. Mulai dari penyelenggaraan kegiatan hingga program pembangunan diadakan di Desa Suka Mulya, padahal semuanya tidak pernah ada.

Terungkapnya modus tersangka diperoleh dari laporan masyarakat. Namun, saat petugas kepolisian hendak mengecek kabar tersebut, mereka tak menemukan AZ di rumahnya, kawasan Desa Suka Mulya, Kecamatan Labangka.

"Keluarga besarnya juga tidak tahu di mana keberadaan tersangka," ujar dia.

Tidak lama barulah diketahui kalau AZ berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Polda NTB pun berkoordinasi dengan Polres Poso untuk menangkapnya, dan diketahui tempat tinggal tersangka merupakan kawasan transmigrasi warga NTB.

"Jadi kami mengindikasi kalau tersangka ini punya banyak utang dengan orang-orang sekitar. Untuk menghindari, dia pun kabur ke sana. Selain itu, memang di Poso juga punya keluarga," kata Syarif.

kepada petugas, AZ membantah kalau dirinya kabur ke Poso setelah diduga menyalahgunakan uang dana desa. Dia ke Poso dengan tujuan menjenguk keluarga yang sedang sakit.

Tersangka AZ dijerat pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman pidana maksimal 20 tahun dan minimal 4 tahun penjara.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal