Isu Tsunami 57 Meter di Pandeglang Banten, Warga Jadi Paranoid

Iskandar Nasution ยท Rabu, 04 April 2018 - 18:18:00 WIB
Isu Tsunami 57 Meter di Pandeglang Banten, Warga Jadi Paranoid
Warga Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Pandeglang secara bergantian berjaga-jaga di pesisir pantai mengantisipasi isu ancaman tsunami besar. (Foto: iNews/Iskandar Nasution)

BANTEN, iNews.id – Warga di pesisir Pantai Pandeglang, Banten, dibuat resah dengan adanya isu tsunami besar yang akan menerjang kampung halaman mereka. Rasa ketakutan itu bahkan mendorong warga setempat untuk saling bergantian berjaga memantau kondisi pantai, jika bencana yang ditakutkan itu benar terjadi.

Pantauan iNews pada Rabu (4/4/2018), di sekitaran pesisir Pantai Pandeglang. Tampak warga Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, berjaga-jaga di pinggir pantai sambil memantau pergerakan air laut. Sebagian nelayan juga tidak melaut, yang ditengarai akibat kekhawatiran tergulung ombak.

Ketakutan itu timbul setelah beredarnya prediksi akan terjadinya gempa megathrust berekuatan 8,8 SR di lautan dangkat, yang bisa memicu terjadinya tsunami besar. Prediksi atas potensi ancaman itu diembuskan seorang Peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko.

Dalam penelitiannya, ia menyebut ada potensi terjadi tsunami setinggi 57 meter di Pandeglang Banten, yang daya terjangnya bisa mencapai wilayah Jakarta Utara. Dia mencontohkan, dampak gempa megathrust adalah adanya gempa di Banten pada akhir Januari 2018. Apabila kekuatan gempa mencapai 9 SR di kedalaman laut yang dangkal, tsunami besar akan terjadi.

“Untuk sementara ini memang ada (keresahan masyarakat). Namun kami terus memberikan pengertian bagi warga. Prediksi itu kan bisa iya, bisa juga tidak,” kata Kepala Desa Citeureup, Oman Suherman.

Dia mengatakan, kalau yang diprediksikan BMKG itu menyangkut seluruh wilayah pantai di Indonesia tidak masalah. Namun ini disebut ancaman itu (tsunami) ada di wilayah Pandeglang. Objeknya mereka sempitkan hanya di wilayah Pandeglang, ini yang jadi dasar keresahan warga.

“Otomatis masyarakat  di sini resah, apalagi daerah kami luasan wilayah pantainya sangat dominan. Masyarakat kami resah sekali atas informasi yang dikeluarkan pihak BMKG,” ujarnya.

Oman melanjutkan, meski hanya sebatas prediksi, namun kewaspadaan terus ditingkatkan. Jika ada warga yang melihat perubahan pergerakan air maupun hal mencurigakan lainnya agar langsung melaporkan ke pemerintah desa dan pihak berwajib.

“Alhamdulilah kami bekerjasama dengan Linmas, BPBD, LPM dan Karang Taruna untuk meningkatkan kewaspadaan. Kami memang perlu berhati-hati soal ini, karena sumbernya dari BMKG,” tuturnya.

Seorang warga desa setempat yang sedang memantau pergerakan air laut di pesisir pantai juga mengakui ada rasa takutnya atas informasi tersebut. “Rasa takut tentu ada, cemas. Namun mudah-mudahan ke depannya tidak terjadi apa-apa,” ucap dia.

Selain menimbulkan keresahan, dampak isu tsunami itu juga menyebabkan turunnya tingkat kunjungan wisatawan. Seperti yang terjadi di Pantai Carita dan Tanjung Lesung.

Sementara itu, menyangkut soal prediksi tersebut, BMKG menyatakan, tsunami memang berpotensi terjadi di Selat Sunda, namun dampaknya diperkirakan tidak sampai ke Jakarta. “Perhitungan BMKG, kemungkinan tinggi tsunami sekitar 10,9 meter, jadi diprediksi tidak sampai Jakarta,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi BMKG M Riyadi di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

BMKG mengklarifikasi pernyataan BPPT yang memprediksi potensi tsunami di Jakarta. Riyadi menerangkan, Pulau Jawa memang berpotensi terjadi tsunami. Hal ini dikarenakan Indonesia dan Pulau Jawa masuk dalam ring of fire atau wilayah yang rawan bencana.

Tsunami, kata dia, berpotensi terjadi apabila ada gempa bumi di Selat Sunda yang berkekuatan lebih dari tujuh skala richter dalam laut yang dangkal. “Kemungkinan tsunami yang terjadi tidak sampai ke Jakarta, namun hanya di kawasan Banten,”  ujarnya.

Kendati demikian, BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan selalu mempersiapkan diri sedini mungkin terkait segala kemungkinan bencana.

Editor : Donald Karouw