Hujan Deras, 5 Desa di Lebong Terendam Banjir, Jembatan Gantung Putus
Lebong, iNews.id - Hujan deras yang terjadi di wilayah Kabupaten Lebong, Bengkulu, menyebabkan lima desa di daerah itu terendam banjir hingga 80 centimeter. Bukan hanya itu, jembatan gantung yang ada di salah satu desa tersebut terputus.
Wilayah yang terendam banjir tersebut di Desa Lemeu, Desa Kota Agung, Desa Betangur dan di Desa Embong di Kecamatan Uram Jaya Kabupaten Lebong.
"Ada dua kecamatan di Kabupaten Lebong yang saat ini masih terendam banjir akibat curah hujan yang terjadi," kata Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Lebong Masayu Uminil Hana saat dikonfirmasi, Kamis (27/10/2022).
Ia mengatakan, banjir ini disebabkan karena hujan dengan intensitas lebat secara intens selama empat jam sehingga menyebabkan banjir hampir merendam seluruh di Kecamatan Uram Jaya.
Akibat banjir tersebut, menyebabkan terendamnya pemukiman, persawahan dan dua unit PDAM terendam banjir yang ada di Desa Lemeu.
Selain itu, jembatan gantung yang berada di Desa Kota Agung merupakan jalan penghubung masyarakat untuk persawahan warga yang ada Kecamatan Uram Jaya juga putus akibat banjir.
Untuk di Kecamatan Uram Jaya sekitar 418 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir, sekitar 50 hektare persawahan dan kolam di Desa Lemeu, kemudian di Desa Betangur merendam 50 rumah warga, Desa Agung yang terdampak banjir merendam 100 KK permukiman warga.
Selanjutnya di Desa Embong sekitar 20 KK terdampak banjir, yang terdampak banjir merendam permukiman warga di perkirakan 20 KK, Desa Kota Agung 100 KK dan persawahan warga sekitar 60 hektare yang terdampak banjir.
Atas kejadian banjir di Kecamatan Uram Jaya menyebabkan arus lalu lintas antardesa di Kecamatan Uram Jaya menjadi lumpuh total sekitar tiga jam akibat genangan air di jalan dengan ketinggian air sekitar satu meter sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.
"Atas kejadian tersebut tidak ada korban jiwa yang terdampak dan tim gabungan telah melakukan evakuasi warga dan perabotan rumah yang terendam banjir," pungkasnya.
Editor: Candra Setia Budi