HIV-AIDS Jangkiti 7.337 Orang di Banten, 403 Orang Meninggal

Antara ยท Jumat, 24 Juli 2020 - 01:03 WIB
HIV-AIDS Jangkiti 7.337 Orang di Banten, 403 Orang Meninggal
Kasus HIV/AIDS di Banten telah merenggut 403 jiwa. (Foto: istimewa)

LEBAK, iNews.id – Sebanyak 7.337 orang di Provinsi Banten positif terinfeksi virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) hingga akhir 2019. Dari jumlah tersebut, 403 orang di antaranya telah meninggal dunia.

Koordinator Pengelola Program Komisi PA Banten Arif Mulyawan mengungkapkan, penderita penyakit HIV dan AIDS (Odha) di Provinsi Banten kurun 1998-2019 mencapai 7.337 orang terdiri atas HIV sebanyak 2.238 orang dan AIDS 5.099 orang di mana 403 orang dilaporkan telah meninggal dunia.

"Kami terus mengoptimalkan pencegahan agar tidak banyak penderita HIV/AIDS meninggal dunia," kata  Arif Mulyawan, Kamis (23/7/2020).

Saat ini, penderita HIV/AIDS yang masih hidup kini menjalani pengobatan diagnosa untuk menekan angka kematian. Pengobatan penderita HIV/AIDS itu melalui pelayanan Klinis Seroja di rumah sakit daerah setempat.

Selama ini, KPA Banten bekerja keras agar pelacakan penderita penyakit menular HIV/AIDS bisa menemukan kasus baru dengan melakukan pemeriksaan sample darah.

Pemeriksaan sample darah bagi pekerja seks komersil (PSK), waria, sopir dan pekerja salon, sebab estimasi penderita HIV/AIDS di Banten sebanyak 15.000 orang dan baru ditemukan 7.337 orang.

Apabila pemeriksaan menemukan kasus baru maka dilakukan pengobatan dan dapat mempertahankan agar mereka bisa menekan kematian.

KPA juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memberikan edukasi tentang bahaya HIV/AIDS itu.

"Kami menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan di delapan kabupaten dan kota untuk melakukan pemeriksaan sample darah untuk menemukan kasus baru," katanya.

Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, dr Firman Rahmatullah mengatakan, saat ini warga yang dilaporkan meninggal dunia sebanyak 170 orang akibat HIV/AIDS.

Masyarakat yang teridentifikasi positif terjangkit HIV/AIDS itu sejak tahun 2002 sampai 2019 mencapai 360 orang dan di antaranya 190 orang masih hidup dan menjalani pengobatan diagnosa untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Pengobatan penderita HIV/AIDS bisa dilayani di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung secara gratis.

"Kami minta semua elemen, termasuk masyarakat juga media tokoh agama dapat mencegah penyebaran penyakit yang mematikan itu," ujarnya.

Dia mengatakan, penyebaran penyakit HIV/AIDS juga ada beberapa faktor antara lain seks bebas, jarum suntik bekas narkoba, transfusi darah dari penderita positif juga air susu ibu yang positif ke bayinya.

Selama ini, kasus penderita HIV/AIDS di Kabupaten Lebak kebanyakan kaum ibu-ibu akibat suaminya kerapkali berhubungan seks di jalanan.

"Kami menemukan kebanyakan kasus HIV/AIDS ibu-ibu itu dari hasil pemeriksaan kesehatan ibu dan bayi," katanya.

Kepala Bagian Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Budi Kuswandi mengatakan, setiap hari melayani pengobatan penderita HIV/AIDS dengan membuka Klinik Seroja.

Pengunjung Klinik Seroja cukup banyak untuk mendapatkan pengobatan terapi antiretroviral atau ART, namun pengobatan terapi ART tidak dapat menyembuhkan HIV, namun dapat mempertahankan hidup lama.

Sebelumnya, obat ART sulit ditemukan juga harganya sangat mahal namun, saat ini pengobatan ART digratiskan oleh pemerintah melalui rumah sakit rujukan ARV.

"Saya kira melalui pengobatan gratis itu tentu dapat meningkatkan kualitas penderita agar bisa bertahan hidup lama," katanya.


Editor : Kastolani Marzuki