Heli MI-8 Lakukan Water Bombing Wilayah Terdampak Likuifaksi Sulteng

Dony Aprian ยท Kamis, 18 Oktober 2018 - 15:53 WIB
Heli MI-8 Lakukan Water Bombing Wilayah Terdampak Likuifaksi Sulteng
Helikopter MI-8 milik BNPB saat dipersiapkan melakukan water bombing di wilayah terdampak likuifaksi di Sulteng. (Foto: Antara)

PALU, iNews.idHelikopter MI-8 dikerahkan untuk melakukan water bombing atau pengeboman material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, Kamis (18/10/2018). Pengeboman itu menjadi langkah efektif karena cakupan wilayah yang luas dan kondisi lapangan yang berpotensi ambles.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan helikopter untuk membantu operasi water bombing yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kesehatan TNI. Material disinfektan diisi ke dalam bucket atau ember yang telah dipersiapkan personel TNI melalui mobil tanki.

“Saat ini sedang berlangsung pengeboman disinfektan di wilayah Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/10/2018).


Penanganan wilayah terdampak likuifaksi tidak hanya melalui pengemboman udara, tetapi juga fogging atau penyemprotan oleh para personel di darat. Langkah tersebut dilakukan di wilayah-wilayah yang dapat dijangkau di Petobo dan Balaroa. Penyemportan juga dilakukan di halaman rumah sakit (RS) yang digunakan untuk pengumpulan jenazah yang berhasil dievakuasi, seperti RS Undata, Madani, dan RS Bhayangkara.

“Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan. Namun untuk solusi jangka panjang, penimbunan wilayah terdampak likuifaksi harus segera dilakukan,” ujarnya.


Pengeboman mau pun penyemprotan disinfektan sebagai upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus. Banyaknya korban meninggal yang diperkirakan masih tertimbun bangunan mau pun tanah mendorong upaya antisipasi tersebut.

Di sisi lain, operasi evakuasi korban meninggal telah dihentikan tim gabungan pada 12 Oktober 2018 lalu. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan mereka melakukan operasi evakuasi ketika mendapatkan laporan dari warga.


Hasil analisis sementara pemetaan secara spasial menunjukkan wilayah terdampak likuifaksi pascagempa Sulteng menyebabkan pengangkatan dan amblesan di Balaroa, Kota Palu. Sementara jumlah perkiraan rumah terdampak mencapai 1.045 unit. Luas wilayah terdampak mencapai 47,8 hektar. Jumlah perkiraan rumah terdampak di Petobo, Kota Palu mencapai 2.050 unit dengan luas wilayah 180 hektare, sedangkan di Jono Oge, Sigi, mencapai 366 unit dengan luas wilayah 202 hektare.

Likuifaksi merukan fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, seperti getaran gempa bumi. Sementara itu, berdasarkan penelitian Badan Geologi pada 2012 menyebutkan bahwa wilayah Palu merupakan wilayah dengan potensi likuifaksi sangat tinggi.


Editor : Donald Karouw