Gempa Bumi M6,3 di Laut Sulawesi Tidak Berpotensi Tsunami, Ini Penjelasan BMKG

Donald Karouw ยท Jumat, 27 Maret 2020 - 00:01 WIB
Gempa Bumi M6,3 di Laut Sulawesi Tidak Berpotensi Tsunami, Ini Penjelasan BMKG
Gemla bumi di Laut Sulawesi, Kepulauan Sangihe Sulut. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Gempa bumi dengan Magnitudo 6,3 terjadi di wilayah Laut Sulawesi, Kamis (26/3/2020) malam pukul 22.38 WIB.

Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa bumi berkekuatan M6,3 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M 6,1.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5.58 LU dan 125.16 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 222 km arah Utara Kota Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada kedalaman 56 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat subduksi lempeng pada Palung Cotabato (Cotabato Trench) di selatan Mindanao, Filipina," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam keterangan tertulisnya, Kamis malam.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik ( Thrust Fault). 

"Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Tahuna dan Melonguane dalam skala intensitas III-IV MMI dimana getaran dirasakan oleh orang banyak. Sedangkan di Siau, Manado dan Bitung dalam skala intensitas II-III MMI dimana getaran dirasakan seakan akan truk berlalu," ujar Rahmat.

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

Hingga pukul 23.00 WIB, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," ujarnya.


Editor : Kastolani Marzuki