Dugaan Pungli Korban Tsunami, Ini Penjelasan Manajemen Rumah Sakit

Sindonews, Rasyid Ridho ยท Jumat, 28 Desember 2018 - 22:39 WIB
Dugaan Pungli Korban Tsunami, Ini Penjelasan Manajemen Rumah Sakit
Korban tsunami Selat Sunda. (Foto: Sindonews)

SERANG, iNews.id - Pihak manajemen Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara (RSDP) akhirnya angkat bicara terkait dugaan pungutan liar terhadap pelayanan jenazah bagi korban bencana tsunami Selat Sunda. 

Plt Direktur RSDP Serang dr Hj Sri Nurhayati melalui siaran pers mengatakan, pihaknya tidak tahu-menahu ihwal pungutan sebesar Rp3,9 juta yang dibebankan kepada keluarga korban. Dia menyebut, kuitansi atas nama RSDP yang beredar di media sebelumnya bukan dikeluarkan oleh manajemen rumah sakit.

Dia menyebut, sejak penanggulangan bencana dilakukan, Bupati Serang Hj Ratu Tatu Chasanah sudah menginstruksikan jajaran RSDP dan puskesmas untuk memberikan pelayanan maksimal dan optimal, tanpa ada biaya terhadap korban atau keluarga korban bencana tsunami Selat Sunda.

"Intruksi tersebut diteruskan kepada unit dan aparatur pelayanan RSDP serta puskemas yang ada di Kabupaten Serang. Pelayanan kesehatan terhadap korban bencana, baik yang datang dari Kabupaten Serang maupun Kabupaten Pandeglang, dilakukan dengan dasar kemanusiaan selama 24 jam, baik yang luka maupun meninggal dunia," katanya lewat siaran pers, Jumat (28/12/2018).

Nurhayati menjelaskan, pelayanan ditangani secara maksimal oleh aparatur, tenaga kesehatan, dan tim dokter, baik di RSDP maupun pukesmas, tanpa membedakan status ekonomi, suku, ras, dan agama.

"Terhadap pembiayaan dan kwitansi yang beredar di media massa, kami tegaskan bukan kwitansi resmi RSDP. Hal itu di luar sepengetahuan manajemen dan direksi RSDP," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, pihak keluarga yang hendak mengambil jenazah korban diduga dibebani pungutan oleh oknum Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara. Tak tanggung-tanggung, besarannya mencapai Rp3,9 juta.

Pungutan tersebut mencuat setelah kerabat korban bernama Leo Manullang diminta membayar biaya jenazah oleh pihak rumah sakit. Kerabat Leo merupakan korban terjangan tsunami di Pantai Carita, Labuan, Pandeglang, Banten.

Leo mengeluhkan permintaan uang sebesar Rp3,9 juta itu. Uang tersebut katanya akan digunakan untuk biaya penanganan jenazah hingga proses transportasi jenazah ke rumah duka di Klender, Jakarta Timur.


Editor : Himas Puspito Putra