Diduga Kelaparan, Bekantan Masuk ke Permukiman Warga di Palangka Raya

Ade Sata ยท Minggu, 16 Agustus 2020 - 21:30:00 WIB
Diduga Kelaparan, Bekantan Masuk ke Permukiman Warga di Palangka Raya
Petugas BKSDA Palangka Raya menngevakuasi binatang langka bekantan yang masuk ke permukiman warga. (Foto: iNews/Ade Sata)

PALANGKA RAYA, iNews.id - Seekor bekantan atau kera khas Kalimantan yang memiliki ekor dan hidung panjang masuk ke permukiman warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (16/8/2020). Warga kesulitan menangkap hewan langka dilindungi tersebut karena liar, cukup gesit dan lincah berpindah-pindah tempat.

Warga bersama Relawan Emergency Responce Palangka Raya dan petugas berusaha menangkap seekor bekantan yang masuk ke permukiman di Jalan Madang, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Kera langka dilindungi khas Kalimantan yang memiliki ekor dan hidung panjang berwarna kemerah-merahan ini sulit ditangkap karena liar, gesit dan lincah berpindah-pindah tempat.

Meskipun telah berusaha mengepungnya menggunakan jaring, namun warga dan petugas tak berhasil menangkap bekantan yang naik dan bersembunyi di atas pohon kelapa.

Menurut Asindai, bekantan tersebut pertama kali diketahui masuk ke permukiman saat dirinya tengah menjemur pakaian dan awalnya mengira orangutan, tak lama kemudian bekantan kabur dari belakang rumahnya.

Sekitar tiga jam kemudian, petugas dari Balai konservasi Sumber Daya Alam bersama Yayasan  Bos Foundation datang ke lokasi untuk menangkap bekantan dengan menembaknya menggunakan obat bius dan langsung dievakuasi petugas menggunakan apd lengkap untuk menjaga hal yang tak diinginkan.

Pengendali ekosistem hutan BSDA Kalimantan Tengah, Nandang Hermawan mengatakan, setelah diperiksa oleh dokter hewan Yayasan Bosf, bekantan tersebut berjenis kelamin jantan berumur sekitar enam hingga tujuh tahun dan memiliki bobot sekitar dua puluhan kilogram ini masuk ke permukiman diduga karena kelaparan dan mencari makanannya karena di alamnya kehabisan makanan. Selanjutnya, bekantan tersebut kemudian dibawa ke kawasan konservasi yang lebih layak untuk dilakukan translokasi tegasnya.


Editor : Kastolani Marzuki