BNPB Sebut Banjir di Lebak Diakibatkan Penambang Emas di Gunung Halimun Salak

Antara ยท Sabtu, 04 Januari 2020 - 20:26 WIB
BNPB Sebut Banjir di Lebak Diakibatkan Penambang Emas di Gunung Halimun Salak
ilustrasi (inews)

Banten, iNews.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengatakan ada delapan warga Kabupaten Lebak, Banten dilaporkan meninggal dunia akibat diterjang banjir bandang . Doni menyebut banjir bandang terjadi karena di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terdapat pertambangan emas.

"Selain delapan orang meninggal, juga enam warga tertimbun dan satu hanyut belum ditemukan," kata Doni di Banten, Sabtu (4/1/2020) seperti dikutip dari Antara.

Doni mengatakan penanggulangan bencana membutuhkan integrasi pemerintah daerah dan pusat. Dia menyebut penyebab banjir bandang di Lebak berbeda dengan daerah lainnya.

Material bebatuan dan lumpur masuk ke aliran Sungai Ciberang, sejak Selasa (31/12/2020). Akibatnya, material itu menerjang permukiman warga yang lokasinya sekitar bantaran sungai, juga di bawah perbukitan.

"Saya kira bencana ini sangat masif dan baru terjadi sejak puluhan tahun," ucap Doni.

BACA JUGA:

Penampakan Perumahan Ciledug Indah usai 3 Hari Direndam Banjir

Waspada, 4 Penyakit Ini Mengintai di Musim Hujan dan Banjir

Dampak bencana alam tersebut diperkirakan sekitar 1.000 rumah rusak berat tersebar di Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas, Curugbitung, Cimarga, Maja, dan Sajira. BNPB dan pemerintah daerah segera melakukan pendataan rumah-rumah yang rusak berat dan rusak ringan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memberikan bantuan pembangunan rumah secara stimulan dengan kategori rusak berat sebesar Rp50 juta, rusak sedang Rp25 juta, dan rusak ringan Rp10 juta.

Menyinggung penanganan hunian warga korban bencana, kata dia, BNPB tidak memberikan bantuan untuk pembangunan hunian sementara. Namun, BNPB memberikan dana stimulan untuk mencari sewa rumah dengan harga Rp500 ribu/bulan.

"Para warga korban banjir itu bisa menyewa rumah sambil menunggu rumah yang rusak bisa dihuni selama enam bulan," kata Doni.


Editor : Muhammad Fida Ul Haq