Begini Kesaksian Bupati Minahasa Selatan Tetty Paruntu dalam Sidang Kasus Bowo Sidik

Antara ยท Rabu, 02 Oktober 2019 - 14:18 WIB
Begini Kesaksian Bupati Minahasa Selatan Tetty Paruntu dalam Sidang Kasus Bowo Sidik
Bupati Minsel Christiany Eugenia Tetty Paruntu menjadi saksi untuk mantan anggota Komisi VI DPR dari fraksi Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso di Pengadilan TIndak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (2/10). (ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia)

JAKARTA, iNews.id - Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu membantah memberikan uang ke mantan anggota Komisi VI DPR dari fraksi Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso untuk revitalisasi pasar pada kabupaten yang dipimpinnya.

"Saya tidak pernah mengusulkan proposal. Karena setiap tahun ada pengusulan proposal di setiap dinas terkait. Dan ketika ada usulan proposal kita harus tanda tangan karena ada usulan dari bawah sampai ke wakil bupati. Mohon maaf juga karena saya di Minahasa Selatan memberi pelimpahan SK ke semua dinas," ujar Tetty Paruntu di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Tetty bersaksi untuk Bowo Sigit Pangarso yang merupakan terdakwa kasus penerimaan suap senilai 163.733 dolar AS dan Rp611.022.932, serta gratifikasi sejumlah 700 ribu dolar Singapura dan Rp600 juta dari l PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), terkait jabatannya sebagai anggota Komisi VI dan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Selain didakwa menerima suap dari dua pengusaha tersebut, Bowo juga didakwa menerima gratifikasi Rp600 juta dan 700 ribu dolar Singapura (Rp7,79 miliar) dari Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera Lamidi Jimat dan uang Rp600 juta dari pihak lain.

BACA JUGAL: Telusuri Gratifikasi Suap Bowo Sidik, KPK Panggil Bupati Minsel Tetty Paruntu

"Yang mengajukan kepala Dinas Perdagangan, Adrian Sumeweng," kata Tetty. "Tapi ini betul tanda tangan saksi?," kata jaksa KPK . "Betul, itu terkait permohonan dukungan anggaran untuk pasar rakyat atas usulan mereka," ucap Tetty.

Tetty mengatakan, proposal tersebut untuk renovasi empat pasar di Minsel. Setiap pasar diusulkan Rp6 miliar. "Tapi saya tidak tahu sampai teknisnya, baru setelah ada rakor (rapat koordinasi) dilaporkan," ujar Tetty.

"Dari 4 proposal yang disetujui itu berapa?" kata jaksa. "Saya tidak tahu Pak, tidak dilaporkan karena saya banyak tugas jadi teknis itu mereka kerjakan. Karena biasanya bila sudah ada anggaran, ada gedung, baru saya resmikan. Saya resmikan hanya satu, tapi saya tidak tahu semuanya," ujar Tetty.

"Apakah saudara pernah ketemu dengan terdakwa di Jakarta di Cilandak Town Square?," ujar jaksa. "Tidak pernah," ucap Tetty. "Bertemu di Plaza Senayan?" kata jaksa. "Tidak pernah," ucap Tetty.

"Pernah titip sesuatu lewat utusan saudara?" kata jaksa. "Tidak pernah pak, tidak," ucap Tetty.

Dalam dakwaan disebut Bowo pernah menerima uang sejumlah Rp300 juta di Plaza Senayan Jakarta dan tahun 2018 sejumlah Rp300 juta di salah satu restoran yang terletak di Cilandak Town Square. Saat itu Bowo Sidik dalam kedudukan sebagai wakil ketua Komisi VI DPR yang sedang membahas program pengembangan pasar dari Kementerian Perdagangan untuk tahun anggaran 2017. Selanjutnya total uang Rp600 juta digunakan untuk keperluan pribadinya.

Dalam sidang sebelumnya, fungsionaris Partai Golkar di Sulawesi, Dipa Malik mengatakan, dia mengantarkan proposal ke Bowo Sidik dalam amplop. Belakangan diketahui amplop tersebut juga berisi uang.

Menurut Bowo, Tetty menemuinya dan minta bantuan untuk pengajuan ke Kemendag. Namun Bowo meminta agar Tetty datang ke Kemendang.

"Saya tidak pernah ketemu dengan kepala dinas Minahasa, kadis langsung ke Kemendag. Kemudian Bu Tetty juga sering minta bantuan saya karena apapun saya sebagai pimpinan, dekat dengan ketua umum dulu, dengan Pak Setya Novanto. Di BAP Pak Dipa Malik menyampaikan amplop kepada saya dan saya buka ada isi uang Rp300 juta. Jadi yang nyerahkan Dipa Malik dan saya tidak tahu, tidak pernah bicara sama bu Tetty," kata Bowo.


Editor : Donald Karouw