531 Gempa Susulan hingga H+6, Kepala BMKG: Ayo Bangkit Warga Lombok

Dony Aprian ยท Sabtu, 11 Agustus 2018 - 16:18 WIB
531 Gempa Susulan hingga H+6, Kepala BMKG: Ayo Bangkit Warga Lombok
Seorang pengungsi korban gempa mengajar anaknya mengaji di dalam tenda darurat beralaskan tanah, Jumat (10/8/2018). (Foto: Antara/Zabur Karuru)

JAKARTA, iNews.idGempa susulan masih terus melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak mengalami guncangan 7,0 Skala Richter (SR), Minggu (5/8/2018). Hingga Sabtu (11/8/2018) atau H+6, pukul 15.00 WIB, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 531 kali gempa bumi susulan dengan 21 kali di antaranya dirasakan kuat oleh masyarakat.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya mengatakan, mengenai gempa susulan masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan dengan kecenderungan getaran yang semakin melemah secara fluktuatif. "Kami tetap menghimbau agar warga tetap tenang namun waspada. BMKG secara terus menerus memantau perkembangan kegempaan ini selama 24 jam dan menginformasikannya kepada masyarakat," katanya.

Dia menjelaskan gempa di Lombok yang terjadi merupakan siklus 200 tahunan dari patahan Flores. Titik gempa terkuat ada di Lombok Utara dan Lombok Timur, kemudian muncul titik di Mataram. Menurutnya, Pulau Lombok berdekatan dengan batu bumi yang patah dan disebut sebagai Sesar Flores. Bentang patah sesar Flores ini dari Bali hingga utara Laut Flores. Patahan terjadi akan memunculkan energi yang sangat besar. Patahan terbesar muncul 200 tahun silam dan yang terjadi saat ini pengulangannya kembali.


Dwikorita juga telah mengunjungi sejumlah titik pengungsian di Pringgabaya, Lombok Timur, NTB, Jumat (10/8/2018). Di sana, dia mengajak masyarakat NTB agar segera bangkit dari duka gempa. "Saya berharap masyarakat Lombok dan korban gempa dapat cepat pulih dan bangkit kembali serta mampu beraktivitas seperti semula. Lombok harus segera bangkit," kata Dwikorita.

Dia mengungkapkan, bencana alam, baik itu gempa bumi, longsor, tsunami, banjir bandang, gunung meletus dan lain sebagainya merupakan salah satu ujian dari Tuhan. Tentunya agar kehidupan manusia menjadi lebih baik dan kuat sehingga harus mampu melewati cobaan tersebut.

“Saya yakin jika kita bisa melewati ujian dengan lapang dada, insya Allah kita akan semakin ditinggikan derajatnya di hadapan Allah," ujarnya.

Warga korban bencana gempa Lombok mandi di reruntuhan bangunan. (Foto: Antara)

Dalam kesempatan itu, Dwikorita juga meminta seluruh korban bencana alam agar bersabar untuk menunggu upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah daerah dan pusat.

Diketahui, gempa berkekuatan 7,0 skala richter (SR) mengguncang Lombok, Minggu (5/8/2018). Pusat gempa diketahui berada di 18 kilometer barat laut Lombok Timur atau pada lereng utara timur laut Gunung Rinjani, di kedalaman 15 kilometer.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (11/8/2018), sedikitnya 387 meninggal dunia dengan sebaran di Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah dan Kota Denpasar sama-sama dua korban jiwa.

Diperkirakan jumlah korban meninggal bisa bertambah karena diduga masih ada  yang tertimbun longsor dan bangunan roboh. Selain itu juga adanya korban meninggal yang belum terdata dan dilaporkan ke posko.

Data sementara juga melaporkan 13.688 orang luka-luka dengan jumlah pengungsi 387.067 jiwa, yang tersebar di ribuan titik. Hasil pemetaan, pengungsi di Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

Korban gempa mengangkat barang yang berhasil diamankan dari rumahnya. (Foto: Antara)


Editor : Donald Karouw