2 Pekan Pascaerupsi Karangetang, Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Subhan Sabu ยท Senin, 18 Februari 2019 - 12:33 WIB
2 Pekan Pascaerupsi Karangetang, Warga Masih Bertahan di Pengungsian
Suanasa warga pengungsi akibat terputusnya akses Ondong-Batubulan yang rusak terkenan guguran lava Gunung Karangetang. (Foto: Istimewa)

SITARO, iNews.id – Sejumlah warga hingga saat ini masih bertahan di lokasi pengungsian pascaerupsi Gunung Karangetang yang terjadi pada Sabtu (2/2/2019) atau lebih dari 2 pekan silam. Hal tersebut akibat terputusnya akses penghubung Ondong-Batubulan hingga 300 meter akibat guguran lava saat terjadi erupsi.

"Mereka (warga) masih tetap bertahan di lokasi pengungsian," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro Bob Wuaten, Senin (18/2/2019).

Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang mencatat aktivitas vulkanik gunung dengan ketingian 1.784 mdpl ini. Di mana terjadi 6 kali gempa guguran, 10 kali gempa hembusan dan 3 kali gempa tektonik jauh.

"Gempa juga terasa satu kali dengan amplitudo 52 mm dan berdurasi 210 detik pada skala II MMI. Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm)," ujar Petugas Pos Pemantau Fredianto Anthon Richard Korompis, Senin (18/2/2019).

Dia menjelaskan, visual gunung terlihat jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100-150 m di atas puncak. Asap kawah II putih sedang-tebal tinggi 50-75, sedangkan di kawah I putih kebiruan menyebar ke tubuh gunung bagian selatan.

Masyarakat direkomendasikan agar tidak mendekati, melakukan pendakian dan beraktivitas di dalam zona bahaya, yakni radius 2,5 kilometer (Km) dari puncak kawah II (utara) dan kawah utama (selatan).

"Masyarakat sekitar Gunung Karangetang kami anjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut untuk mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu," ujarnya.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai i berhulu dari puncak Gunung Karangetang diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang.


Editor : Donald Karouw