10 Ton Ikan Keramba di Danau Maninjau Agam Mati akibat Angin Kencang

Antara ยท Kamis, 27 Februari 2020 - 23:35 WIB
10 Ton Ikan Keramba di Danau Maninjau Agam Mati akibat Angin Kencang
Sebanyak 10 ton ikan keramba di Danau Manainjau, Agam, Sumbar mati mendadak akibat angin kencang. (Foo: Antara)

LUBUKBASUNG, iNews.id - Sekitar 10 ton ikan keramba jenis nila di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mati akibat angin kencang melanda daerah itu. 

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto mengatakan, ikan mati dengan kondisi siap panen itu berada di Muaro Pauh, Jorong Batuang Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjungraya.

"Ikan ini mati semenjak Selasa (25/2) setelah angin kencang melanda daerah itu pada Kamis (20/2/2020)," katanya, Kamis (27/2/2020).

Dia mengatakan, 10 ton ikan yang mati itu berasal dari belasan keramba jaring apung milik 12 petani atas nama Asbal sebanyak dua ton, Afis 500 kilogram, Udin satu ton, Abeng satu ton.

Selain itu Nunuk satu ton, Pamuncak 500 kilogram, Fauzi satu ton, Riki 500 kilogram, Sutan Sulaiman 500 kilogram, Yardi 500 kilogram, Sirul 500 kilogram dan Yamaris 500 kilogram.

"Petani mengalami kerugian sekitar Rp260 juta akibat kejadian itu, karena harga ikan di tingkat petani Rp26 ribu per kilogram," katanya.

Ermanto mengatakan, petani keramba jaring apung membuang bangkai ikan ke dalam danau vulkanik itu.

Dengan kondisi itu, air sungai menjadi tercemar dan mengeluarkan bauk tidak sedap.

"Kami telah mengimbau petani agar mengumpulkan bangkai ikan dan mengubur agar air tidak mencemari danau," katanya.

Ermanto mengakui, kematian ikan ini merupakan yang ketiga kalinya selama Januari-Februari 2020, karena sebelumnya kematian massal juga terjadi di Galapuang, Nagari Tanjung Sani sebanyak 10 ton pada 29 Januari 2020.

Pada 5 Februari 2020, kematian ikan kembali terjadi di Linggai, Nagari Duo Koto 63 ton.

Untuk itu pihaknya mengimbau petani untuk memanen ikan yang siap panen dan tidak menebar bibit ikan agar tidak terjadi kematian massal.
"Angin kencang masih berpotensi melanda daerah ini," kata dia.


Editor : Kastolani Marzuki