Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel meninjau pembangunan bendungan Bulango Ulu di Bone Bolango, Gorontalo, Senin (25/4/2022). (Foto: Ist)
Reza Yunanto

GORONTALO, iNews.id - Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel meninjau pembangunan bendungan Bulango Ulu di Bone Bolango, Gorontalo. Dia menyebut bendungan tersebut akan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

"Bendungan ini merupakan proyek strategis nasional yang akan memiliki dampak besar bagi masyarakat Gorontalo. Bahkan akan memberikan kontribusi bagi ekonomi nasional khususnya dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional," ujar Wakil Ketua DPR bidang Korinbang ini, Senin (25/4/2022).

Bendunga Bulango Ulu mulai dibangun pada 2021 dan diharapkan selesai pada 2024. Bendungan dengan panjang 358,75 meter ini membendung Sungai Mongiilo dengan luas genangan 614,72 hektare. 

Bendungan ini akan memberikan manfaat irigasi bagi 4.193 hektare sawah, PLTA 4,96 MW, memasok air bersih 2,2 meter kubik per detik, dan mereduksi banjir hingga 84,62 persen. 

Gobel mengatakan, Kota Gorontalo berbentuk seperti mangkuk karena dikelilingi perbukitan. Kata Gorontalo salah satunya berakar dari kata Hulontalo, yang bermakna tanah yang tergenang air. Di Gorontalo terdapat danau yang besar yakni Danau Limboto. 

“Bendungan ini akan menjadi bagian dari masa depan Gorontalo. Kita ingin membangun peradaban baru Gorontalo yang maju dan makmur melalui pendekatan budaya dan teknologi yang berakar pada adat-istiadat warisan leluhur," kata Gobel.

Gobel mengatakan, untuk memperkuat ekonomi rakyat harus membangun pertanian, UMKM, ekonomi berbasis budaya, dan kelautan serta perikanan. Menurutnya, ekonomi pangan dan ekonomi kreatif akan menyerap tenaga kerja yang besar dan akan menciptakan pemerataan ekonomi. 

"Karena itu pembangunan bendungan ini sangat strategis bagi kemajuan Gorontalo ke depan," ujarnya.

Saat meninjau pembangunan bendungan itu, Gobel mendapatkan laporan tentang kendala pembebasan lahan yang masih terhambat. Pembebasan lahan baru mencapai 20 persen. Sebagian besar yang belum dibebaskan justru ada di areal genangan. 

"Masalahnya bukan pada harga, tapi pada sengketa kepemilikan lahan. Ini harus segera ada solusi. Jangan sampai menghambat progres pembangunan bendungan ini,” katanya. 
Dari laporan pihak terkait, di lahan yang akan menjadi areal genangan itu sudah tak lagi ada penduduk.

Proyek pembangunan bendungan ini akan menyerap anggaran sekitar Rp 2,3 triliun rupiah. Pembangunan akan melibatkan sejumlah perusahaan seperti Hutama Karya, Istana Karya, Brantas Abipraya, Yodya Karya, Indra Karya, maupun Bumi Karsa.


Editor : Reza Yunanto

BERITA TERKAIT