Warga Penajam Paser Utara, Kaltim melaksanakan salat istisqa untuk minta hujan. (Foto: iNews.id/Mukmin Azis)

JAKARTA, iNews.id – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia telah berdampak luas bagi masyarakat. Tak hanya mengganggu kesehatan, kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan juga telah mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya sumber air akibat kemarau panjang. Salah satu cara agar segera diturunkan hujan adalah melakukan salat minta hujan atau salat istisqa berjamaah. Melalui salat istisqa ini, umat Islam memohon kepada Allah supaya hujan segera turun sehingga manusia dan makhluk hidup tak lagi kekeringan.

Dikutip dari laman Pustaka Studi Sunni Salafiyah-KTB (PISS KTB), salat Istisqa hukumnya sunnah Muakkadah berdasarkan hadits nabi. Rasulullah saw. keluar meminta hujan, beliau memunggungi jama’ah dan menghadap kiblat, mengubah posisi selendangnya, (HR. Muslim).

Namun, sebelum melaksanakan salat istisqa’ diharapkan semua jama’ah memperbanyak istighfar atau bertaubat kepada Allah, memohon ampunan kepada Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukannya.

Karena dosa-dosa inilah yang menjauhkan kaum dari Rahmat-Nya (diajuhkan dari hujan, didatangkan keprihatianan, paceklik dan berbagai macam cobaan menakutkan lainnya). sebagaimana diterangakan dalam al-Isra' ayat 16:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuanKami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya".

Karena itulah sebaiknya jama’ah memperbanyak amal saleh, sedekah dan berdamai dan saling memaafkan. Semua itu disunnahkan agar dilakukan selama tiga hari berturut-turut menjelang salat Isitisqa’ dalam keadaan berpuasa.

Pada hari keempatnya di pagi hari ketika matahari telah terbit dilaksanakanlah shalat Istisqa’ dan masih dalam keadaan berpuasa. Karena do’a dalam keadaan berpuasa memiliki nilai lebih.Aisyah berkata : Rasulullah SAW melaksanakan shalat Istisqa’ ketika sinar matahari telah terlihat.” (HR. Abu Daud dan Al Hakim menshahihkannya).

Shalat isitisqa’ harus dilaksanakan dengan penuh khidmat, keprihatinan dalam keadaan memelas dan merendahkan diri serendah rendahnya kepada Allah SWT, tidak boleh banyak bicara baik ketika perjalanan, duduk maupun menunggu. Semua harus dilakukan dengan sangat khusyu’ dan hening. Sebagaimana dilakukan Rasulullah saw

Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadrami menyebutkan, salat istisqa dilakukan dua rakaat, sama dengan dua rakaat salat Id. Namun tata cara salat keduanya agak berbeda sedikit dalam penempatan khutbah, pembacaan takbir dan arah kiblat pada khutbah kedua.

Seperti salat lainnya, sebelum salat istiqa diawali dengan membaca niatnya:

Ushalli sunnatal istisqa’i rak‘ataini ma’muman lillahi ta‘ala.

Artinya, “Aku menyengaja salat sunah minta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”

Berikut tata cara salat istiqa:

  1. Salat dua rakaat.
  2. Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  3. Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  4. Khutbah dua atau sekali sebelum (atau setelah) salat. Khutbah setelah salat lebih utama.
  5. Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
  6. Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
  7. Perbanyak doa dalam khutbah kedua.

Editor : Kastolani Marzuki

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network