MANGGARAI, iNews.id - Kalangan petani di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) kewalahan memenuhi permintaan pasar yang begitu besar.
Permintaan itu tidak lain datang dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Saking tingginya permintaan, petani sampai tidak bisa memenuhinya.
“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili Jenadi, petani dari Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Sabtu (21/2/2026).
Dia bersyukur tanamannya bisa terserap dengan baik. Agar bisa memenuhi permintaan, Gili mencoba untuk menanam berbagai jenis tanaman di lahan miliknya. Pertama, dia menanam buncis sesuai permintaan SPPG, dan itu langsung diborong habis.
Gilli juga menanam tomat dan cabai keriting. Untuk jangka panjang, Gili juga menyiapkan tanaman brokoli untuk kebutuhan tahunan. “Tahun 2025 kemarin, saya punya bancis kurang lebih 3.000 pohon. Terlaku habis untuk program MBG,” katanya.
Dari pengalaman itu, Gili berani untuk menanam berbagai jenis tanaman hortikultura. Apalagi permintaannya tinggi berkat program MBG. “Berani menanam wortel, sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” ujarnya.
Gili berharap program MBG bisa terus berjalan. Selain meningkatkan gizi penerima manfaat, terutama siswa sekolah, MBG ini juga berkah tersendiri bagi para petani.
Pengalaman serupa juga datang dari Mikael Jehudu, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru Kelurahan Wali. Dia berani menanam berbagai jenis tanaman agar bisa terserap dapur MBG.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait