BANGKA, iNews.id – Masyarakat Muslim di Kabupaten Bangka memiliki tradisi cukuran massal bagi balita yang diselenggarakan secara turun-temurun. Tradisi itu digelar setiap tanggal 11 Djulhijah penanggalan Islam alau tepatnya di hari kedua Idul Adha.
Seperti yang dilakukan masyarakat Desa Sri Pemandang dan Desa Karyamakmur. Hari kedua Idul Adha, Kamis (23/8/2018), masyarakat menggelar acara cukuran massal balita di Masjid Nurul Huda Sungailiat. Sedikitnya ada 23 balita yang mengikuti acara cukuran massal kali ini.
Sejak pagi, sebelum cukuran massal digelar, arak-arakan orang tua yang menggendong balitanya sudah terlihat. Para orang tua bayi membawa sejumlah benda yang identik dengan tradisi ini di antaranya telur yang dihias dan digantung dengan lidi kelapa.
Ada juga pohon uang yang dihiasi dengan bendera warna-warni, dan minyak wangi. Selain itu, setiap orang tua membawa buah kelapa kuning yang kuning. Di kulit kelapa, orang tua mengukir nama balita yang akan ikut dalam cukuran massal.
Para orang tua selanjutnya berjejer di masjid. Lalu, sejumlah tokoh agama akan memotong beberapa helai rambut balita yang digendong oleh orang tua mereka masing-masing. Tokoh agama juga mendoakan si balita. Selama acara cukuran massal, jamaah masjid membacakan barzanji.
Pengurus Masjid Nurul Huda Sungailiat, Syahdan mengatakan, makna dari pelaksanaan kegiatan cukur rambut massal itu untuk menjalankan Syariat Islam. Tradisi itu juga sebagai tanda syukur orang tua terhadap anugerah anak yang diberikan oleh Tuhan. Diharapkan agar sang bayi tumbuh besar menjadi anak yang berguna bagi agama dan orang tuanya.
“Sudah rutinitas setiap tahun. Ini ide-ide orang tua kita zaman dahulu. Kami melakukan ini agar tradisi cukur massal nggak hilang. Makna tradisi ini sebagai tanda syukur kepada Allah SWT terhadap anak yang diberikan Tuhan kepada orang tua mereka,” papar Syahdan.
Selain untuk menjaga tradisi, cukuran massal juga diharapkan mampu meringankan beban orang tua. Sebab, biaya yang dikeluarkan akan lebih besar jika mereka menggelar sendiri-sendiri. Sementara keluarga yang mampu secara ekonomi melaksanakan tradisi cukur rambut dengan menggelar aqiqah dan memotong hewan.
Editor : Maria Christina
Artikel Terkait