BENGKULU, iNews.id - Mudik Hari Raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi setiap tahunnya di masyarakat Indonesia. Berkumpul bersama keluarga serta menikmati hidangan lebaran.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), yang rela berlebaran di negeri orang dan jauh dari keluarga saat perayaan hari Lebaran.
David Laredo, contohnya. Satu dari sekian banyak sopir bus AKAP di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Pria 29 tahun itu rela meninggalkan sang istri dan dua orang anaknya. untuk mengantarkan para pemudik ke pulau Jawa.
Bapak dari dua orang anak itu mengaku, sudah empat kali lebaran di kampung halaman orang, Layaknya "Bang Toyib". Seperti, di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Sedih sekali rasanya, tidak bisa lebaran dengan keluarga. Tapi, mau bagaimana lagi ini tuntutan saya sebagai sopir AKAP," kata David Laredo, Jumat (29/4/2022).
Pria kelahiran 1993 ini mengatakan, dirinya telah melakoni profesi sebagai sopir AKAP, disalah satu perusahaan Bus terbesar, di Kota Bengkulu, sejak tahun 2019 silam.
Dalam perjalanan karirnya, David kerap kali menemukan musim arus mudik lebaran, yang berdampak pada lebaran di pulau Jawa.
Sebab, kata pria yang tinggal di Kelurahan Padang Serai, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu ini, dirinya mesti menghantar pemudik dari Bengkulu - Bandung, Jawa Barat.
Terkait hal itu, jelas David, membuat dirinya acap kali lebaran di pulau Jawa. Mulai dari lebaran di Bandung, dan Solo.
"Sudah sering sekali saya lebaran di jalan. Yang paling banyak saya lebaran di Bandung. Walapun begitu saya tetap berhubungan lewat via telefon saat lebaran untuk saling bermaaf-maafan," lanjut David.
David mengulas, pofesi yang dia lakoni selama ini terkadang merasa sedih. Di saat hari raya Idul Fitri, yang mana semua orang berlebaran bersama. Namun, David hanya mengantarkan pemudik ke pulau Jawa.
"Sulit untuk disampaikan dengan kata-kata. Sedih sekali pokoknya," tutur David.
Disinggung masalah gaji sebagai sopir AKAP, David mengaku, gaji yang diterimanya dari perusahaan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Cukup untuk makan. Kita juga dapat tambahan gaji. Kita tidak ada boleh izin saat musim lebaran. Kita harus jalani profesi ini dengan senang hati dan rela berlebaran di negeri orang," pungkas David.
Editor : Nur Ichsan Yuniarto
Artikel Terkait