Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan strategi pembiayaan BRI untuk memperkuat ekosistem pangan nasional. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNews.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pembiayaan yang menjangkau seluruh rantai ekosistem pangan, mulai dari hulu hingga hilir. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat swasembada protein nasional melalui pengembangan sektor perikanan, peternakan, UMKM, koperasi, hingga industri pengolahan.

Komitmen tersebut disampaikan dalam CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertema, Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global yang digelar di Jakarta, Senin (19/10). 

Forum ini menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian Saleh Mustafa, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta sejumlah pimpinan BUMN.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan, swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menyangkut kedaulatan nasional. 

Karena itu, penguatan sektor pangan harus disertai keberpihakan kepada pelaku usaha kecil, termasuk nelayan dan pembudidaya ikan.

“Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu,” ujar Zulkifli Hasan dalam forum tersebut.

Dia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur, seperti cold storage, serta akses pembiayaan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pelaku usaha pangan.

Senada, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai sektor perikanan memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. 

Menurutnya, ikan dan hasil laut berpotensi diolah menjadi beragam produk pangan bernilai tambah yang lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” ujar Trenggono saat membahas besarnya potensi pangan berbasis hasil laut.

Dia menilai, inovasi pengolahan produk perikanan menjadi salah satu langkah penting agar sumber protein tersebut dapat dikonsumsi masyarakat secara lebih luas dengan harga terjangkau.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan bagi pelaku usaha di berbagai skala, mulai dari masyarakat yang baru merintis usaha hingga perusahaan besar.

“Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi,” ujar Akhmad.

Menurutnya, pembiayaan sektor pangan dibutuhkan pada setiap tahapan usaha, bukan hanya untuk kegiatan produksi. 

Di sisi hulu, pembiayaan dapat digunakan untuk pengadaan benih dan pakan serta meningkatkan kapasitas produksi. 

Pada tahap pengolahan, dukungan pembiayaan diperlukan untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja. Sementara di sisi hilir, pembiayaan dapat menjangkau distributor, pedagang, hingga kebutuhan persediaan.

Salah satu penerapan pendekatan tersebut terlihat pada ekosistem peternakan sapi perah di Malang. BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas cold storage, serta memberikan pembiayaan kepada industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi.

Dengan demikian, pembiayaan tidak berjalan secara terpisah, tetapi saling terhubung dalam rantai nilai yang mendukung keberlanjutan usaha.

Dari sisi penyaluran kredit, hingga akhir Triwulan II 2026, total portofolio kredit BRI mencapai Rp1.645 triliun. Sekitar 75,1% di antaranya disalurkan kepada segmen UMKM.

Sementara itu, sekitar 44% penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang Triwulan II 2026 diarahkan ke sektor pertanian dan perikanan. Kedua sektor tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem pangan dan protein nasional.

Diamenegaskan, pembiayaan untuk UMKM tetap menjadi prioritas BRI. “Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM,” ucapnya.

Untuk mendukung penyaluran pembiayaan, BRI memiliki sekitar 30.000 tenaga pemasar di lapangan yang memiliki spesialisasi di berbagai sektor, seperti peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan. 

Keberadaan tenaga pemasar tersebut memungkinkan BRI memahami karakteristik usaha serta kebutuhan pembiayaan pelaku usaha secara lebih dekat.

“Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh,” ujarnya.

Melalui pendekatan tersebut, BRI terus memperkuat peran perbankan dalam mendukung ekosistem pangan nasional. 

Pembiayaan tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat keterhubungan antarpelaku dalam rantai pasok sehingga tercipta ekosistem pangan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.


Editor : Kurnia Illahi

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network