Produksi kelapa dan turunannya yang diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah untuk pasar ekspor. (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Jutaan butir kelapa dari perkebunan Indonesia kini tidak hanya dijual dalam bentuk komoditas mentah. Kelapa dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tambah, mulai dari santan, minyak kelapa, cocopeat, cocofiber hingga bahan pangan untuk pasar ekspor.

Potensi tersebut ikut mendorong PT Royal Agro Industri (RAI) memperbesar kapasitas pengolahan kelapa di sejumlah daerah. Perusahaan menargetkan total kapasitas empat pabriknya mampu mengolah lebih dari 2 juta butir kelapa setiap hari.

Saat ini, PT RAI menaungi tiga pabrik pengolahan kelapa, yakni PT Dewa Agricoco Industri (DAI) di Halmahera, Maluku Utara, PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, Sulawesi Utara, dan PT Samuda Coco Indonesia di Sampit, Kalimantan Tengah.

Perusahaan juga tengah membangun pabrik baru, PT Garuda Coco Industri, di Riau. Pabrik tersebut disiapkan untuk menambah kemampuan pengolahan kelapa di dalam negeri seiring meningkatnya permintaan produk olahan kelapa di pasar global.

CEO PT RAI Johanna mengatakan peralatan produksi baru akan ditempatkan di pabrik Manado, Sampit, dan Riau. Di Manado dan Sampit, mesin tersebut akan digunakan untuk menambah jalur produksi, sedangkan fasilitas di Riau akan disiapkan sejak awal untuk proses produksi.

"Tahun depan (2027), semua alat baru sudah bisa digunakan untuk produksi," ujar Anna, Kamis (17/9/2026).

Dengan tambahan fasilitas tersebut, pabrik Riau ditargetkan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1 juta butir kelapa per hari. Sementara itu, pabrik Manado mampu mengolah sekitar 500 ribu butir, Sampit 350 ribu, dan pabrik di Maluku 250 ribu butir kelapa per hari.

Jika seluruh kapasitas tersebut berjalan, total kemampuan pengolahan PT RAI mencapai lebih dari 2 juta butir kelapa per hari.

Kelapa yang masuk ke fasilitas pengolahan tersebut kemudian dapat menghasilkan berbagai produk. Di antaranya desiccated coconut low fat, desiccated coconut high fat, santan, arang, cocofiber, cocopeat, crude coconut oil, serta produk turunan lainnya.

Pengolahan tersebut membuat satu komoditas dapat menghasilkan lebih banyak produk dengan kegunaan dan pasar yang berbeda. Sebagian hasil olahan kelapa PT RAI bahkan telah dipasarkan ke berbagai negara.

PT RAI menargetkan kapasitas pengolahan lebih dari 2 juta butir kelapa per hari di empat pabrik, menghasilkan santan, cocopeat hingga minyak kelapa. (Foto: Ist)

Saat ini, produk olahan perusahaan telah diekspor ke lebih dari 33 negara, termasuk Jerman, Spanyol, Turki, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Pemilik PT RAI Jerry Hermawan Lo mengatakan pengolahan kelapa di dalam negeri menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.

“Kalau dulu kelapa Indonesia diekspor dalam bentuk utuh (kelapa bulat) dengan harga murah, sekarang dengan pabrik ini, kami bisa olah dulu sebelum diekspor. Tentu saja olahan kelapa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Ini yang dinamakan hilirisasi kelapa," ucap pengusaha yang merintis bisnisnya dari nol itu.

Bagi perusahaan, pengembangan kapasitas produksi bukan hanya berkaitan dengan penambahan jumlah produk. Ketersediaan bahan baku dari petani juga menjadi bagian penting agar industri pengolahan kelapa dapat terus berjalan.

PT RAI menyebut telah bekerja sama dengan ribuan petani kelapa dan memberikan pendampingan serta pelatihan untuk mendorong produktivitas. Hubungan antara petani dan industri menjadi penting karena peningkatan kapasitas pabrik harus diikuti dengan ketersediaan kelapa sebagai bahan baku.

Jerry mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam industri kelapa karena mempunyai perkebunan kelapa yang luas.

“Tidak banyak negara yang punya perkebunan kelapa. Salah satu yang terbesar adalah Indonesia," ucapnya.

Perusahaan juga menyebut setiap bagian kelapa diupayakan dapat dimanfaatkan sehingga tidak menyisakan limbah. Sabut dapat diolah menjadi cocofiber dan cocopeat, sementara bagian lainnya dapat dimanfaatkan menjadi produk turunan sesuai kebutuhan industri.

Dengan pengembangan tersebut, industri kelapa tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga berbagai bahan yang dapat digunakan untuk kebutuhan industri lainnya.

Pengembangan pabrik dan penambahan jalur produksi tersebut ditargetkan mulai beroperasi menggunakan peralatan baru pada 2027. Kapasitas yang semakin besar diharapkan dapat memperluas pengolahan kelapa di dalam negeri sekaligus memenuhi permintaan produk olahan dari pasar internasional.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network